Purworejo, Subsidi tabung gas elpiji domestik produk dalam negeri dan kompor yang dicanangkan pemerintah pusat melalui PT Pertamina ternyata menuai banyak masalah dalam perjalanannya. Mulai dari nyalanya api kompor hingga problem pelik regulator tabung gas yang tidak normal. Terbukti, banyak warga mengeluhkan gladiator tersebut kurang layak. Dari pasangan antara tabung gas dengan pengaturan sumbu api hingga selang saluran gas yang menuju kompor.
Teguh Prayitno (27) warga RT 6, RW 3 Desa Bandungrejo Kecamatan Bayan mengatakan regulatornya lepas dan jebol melenting ke atas. Gasnya menyembur ke atas setinggi lima meter. Untung saja pada saat kejadian Senin (1/3) sore kemarin, tidak ada api disekitar lokasi. Akhirnya dia nekatkan diri untuk menutup bagian atas regulator.
”Saya sirami dulu sekeliling petak semburan gas itu dengan air. Saya amat takut kalau ada percikan api yang menyulut gas dan menjadi bara besar,” ujarnya.
Diakuinya dengan kejadian tersebut membuat dia membeli regulator baru di toko seharga 45 ribu.
Hal sama juga dialami pedagang nasi uduk Sirwahyuningsih (30) yang biasa berjualan di alun-alun Kutoarjo. Dia mengaku selang regulator tabung gas elpiji miliknya sudah dua kali jebol. ”Kami hanya bisa menggunakan selang tersebut dua minggu,” keluhnya.
Sementara itu, Dini (34) warga yang tinggal di RT 4, RW 3 Kelurahan Bandung, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo mengatakan saat pertama kali menerima kompor dan tabung akhir Desember 2009 lalu, barang tersebut tak bisa dioperasikan.
Pasalnya, regulatornya nggak bisa konek dengan tabung gas. Selepas diganti selang baru bisa nyala normal. Namun, setelah dua minggu digunakan, selang tersebut tidak bisa digunakan, dan api menyala kehitam-hitaman. Sehingga membuat ceret tempat memasaknya berwarna hitam tebal.
Terpisah Sumartoyo pemilik agen Elpiji 3 kg PT Marsudi di wilayah Kutoarjo, Purworejo menandaskan, itu urusan tehnis pertamina. Dia mengaku, pihaknya hanya mengantar tabung gas tersebut ke pengguna dan mengisinya di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Butuh.
Ketika dikonfirmasi ke PT Nisiha Biru Abadi di Butuh tempat isi ulang tabung gas elpiji tersebut, Sutarno security terkesan menutup-nutupi pada wartawan untuk mengorek informasi. Dia mengatakan terkait mengenai fasilitas tehnis tabung gas elpiji dan kompor, yang menangani adalah kantor pengisian tabung gas elpiji di Solo. Yakni di PT Indah Sri Rejeki.”Bahkan untuk lamaran kerja sana yang menangani. Disini hanya adminstrasi mengenai pengisian tabung gas oleh para agen,” jelasnya.
Ketika dihubungi ke nomor telfon kantornya di Jl A Yani 38 Solo tidak nyambung. Beberapa kali mencoba tidak ada sinyal menghubungkan ke nomor yang di korek dari PT Nisiha Bir Abadi di Butuh. Sebelumnya, Hendri penjaga gudang agen PT Marsuid Kutoarjo menjelaskan kasus semacam itu bukan disebabkan karena regulator, namun tabungnya.”Kami hanya melayani misalnya ada tabung yang rusak maupun bocor dari pangkalan di-return, maka kami akan mengeceknya dengan mencelupkan tabung tersebut ke dalam air. Apabila keluar gelombang air berarti tabung gas itu rusak. Dan kami akan mengembalikannya di SPBE Butuh,” ujarnya.
Menurutnya, kalau sampai kompor gas itu kok meledak, ada indikasi pemilik tabung gas kurang luas wawasannya mengenai proses kinerja antara tabung gas elpiji dengan kompornya.
Terkait regulator yang tidak normal dari subsidi tersebut, dia juga menjelaskan bahwa selama ini merk regulator dan selangnya berbeda-beda.”Rata-rata buatan tahun 2008 untuk regulatornya dan 2000 untuk selangnya,” pungkasnya.



0 komentar: